Rabu, 29 Mei 2013

Alat Kontrasepsi Hormonal Suntik

KB SUNTIK HORMONAL


A.     Pengertian Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi adalah suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan yang bertujuan untuk menjarangkan kehamilan, merencanakan jumlah anak dan meningkatkan kesejahteraan keluarga agar keluarga dapat memberikan perhatian dan pendidikan yang maksimal pada anak. (Harnawaty, 2008)
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah  terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal.  Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman. (Harnawaty, 2008)

B.     Cara kerja kontrasepsi Suntik
1.       Mencegah ovulasi (masa subur)
Suntikan KB ini merupakan suatu cairan yang berisi zat untuk mencegah kehamilan (menghalangi ovulasi/pembuahan) selama jangka waktu antara 1-3 bulan.
2.       Mengubah lendir serviks (vagina) menjadi kental dan menghambat sperma serta menimbulkan perubahan pada rahim.
Cairan yang terdapat dalam KB suntik tersebut merupakan hormon sintetis progesteron. Hormon inilah yang akan membuat lender rahim menjadi kental sehingga sel sperma tidak dapat masuk ke rahim.
3.       Mencegah terjadinya pertemuan sel telur & sperma
Hormon progestin juga mencegah pelepasan sel telur yang dikeluarkan tubuh wanita. Tanpa pelepasan sel telur, seorang wanita tidak akan mungkin hamil.
4.       Mengubah kecepatan transportasi sel telur dan menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
Selain itu pada penggunaan Depo Provera, endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas kelenjar. Sedangkan hormon progestin dengan sedikit hormon estrogen akan merangsang timbulnya haid setiap bulan. (Saifudin, 2003)

C.     Macam/jenis dan  lama penggunaan suntik
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang mengandung progestin, yaitu:
1.       Depo medroksiprogesteron asetat (DMPA), yang mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuscular (di daerah bokong).
2.       Depo norestisteron enantat (Depo Noristerat), yang mengandung 200 mg noretindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular.
3.       Cyclofem (jenis sunyikan kombinasi) mengandung 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi im. (Saifudin, 2003)

D.     Daya guna/efektifitas KB suntik
Ketiga kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektifitas yang tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan/tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.  (Saifudin, 2003)

E.           Kontra indikasi KB suntik
Beberapa keadaan kelainan atau penyakit, merupakan kontra indikasi pemakaian suntikan KB. Ibu dikatakan tidak cocok menggunakan KB suntik jika ibu sedang hamil, ibu yang menderita sakit kuning (liver), kelainan jantung, varises (urat kaki keluar), mengidap tekanan darah tinggi, kanker payudara atau organ reproduksi, atau menderita kencing manis. Selain itu, ibu yang merupakan perokok berat, sedang dalam persiapan operasi, pengeluaran darah yang tidak jelas dari vagina, sakit kepala sebelah (migrain) merupakan kelainan-kelainan yang menjadi pantangan penggunaan KB suntik ini.(Farmakoterapi, 2009)

F.      Indikasi KB suntik         
Yang dapat memakai KB suntik  kombinasi:
1.      Usia reproduksi
2.      Telah memilki anak ataupun belum memiliki anak
3.      Ingin mendapat kontrasepsi dengan efektifitas tinggi
4.      Menyusui pasca persalinan > 6 minggu
5.      Pasca persalinan dan tidak menyusui
6.      Anemia
7.      Nyeri haid
8.      Haid teratur
9.      Riwayat kehamilan ektopik
10.  Sering lupa menggunakan pil
Yang dapat memakai kontrasepsi suntikan progestin
1.      Usia reproduksi
2.      Nulipara dan telah punya banyak anak
3.      Menghendaki kontrasepsi jangka panjang
4.      Menyusui
5.      Setelah melahirkan dan tidak menyusi
6.      Setelah abortus
7.      Telah banyak anak tapi belum menginginkan tubektomi
8.      Perokok
9.      Tekanan darah < 180/110 mmhg
10.  Menggunakan obat epilepsy
11.  Anemia defisiensi besi
12.  Tidak dapat memakai kb yang mengandung esterogen
13.  Mendekati usia menopause


G.    Keuntungan KB suntik
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara yang paling baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1% pertahun (Saifuddin, 1996). Suntikan KB tidak mengganggu kelancaran air susu ibu (ASI), kecuali Cyclofem. Suntikan KB mungkin dapat melindungi ibu dari anemia (kurang darah), memberi perlindungan terhadap radang panggul dan untuk pengobatan kanker bagian dalam rahim. Kontrasepsi suntik memiliki resiko kesehatan yang sangat kecil, tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri. Pemeriksaan dalam tidak diperlukan pada pemakaian awal, dan dapat dilaksanakan oleh tenaga paramedis baik perawat maupun bidan.
Kontrasepsi suntik yang tidak mengandung estrogen tidak mempengaruhi secara serius pada penyakit jantung dan reaksi penggumpalan darah. Oleh karena tindakan dilakukan oleh tenaga medis/paramedis, peserta tidak perlu menyimpan obat suntik, tidak perlu mengingat setiap hari, kecuali hanya untuk kembali melakukan suntikan berikutnya. Kontrasepsi ini tidak menimbulkan ketergantungan, hanya saja peserta harus rutin kontrol setiap 1, 2 atau 3 bulan. Reaksi suntikan berlangsung sangat cepat (kurang dri 24 jam), dan dapat digunakan oleh wanita tua di atas 35 tahun, kecuali Cyclofem.

H.     Kekurangan KB suntik
1.       Gangguan haid.
      Siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, spotting, tidak haid sama sekali.
2.       Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu
3.       Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
4.       Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
5.       Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
6.       Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan densitas tulang
7.       Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, dan jerawat.


I.        Efek samping
Efek samping suntik DMPA adalah sebagai berikut :
1.       Gangguan Haid
Gejala dan keluhan dalam gangguan pola haid yaitu:
a.       Amenorrea
Tidak datangnya haid selama akseptor mengikuti suntikan KB selama tiga bulan bertutut – turut. Gangguan pola haid amenorrea disebabkan karena terjadinya atrofi endometrium yaitu kadar estrogen turun dan progesteron meningkat sehingga tidak menimbulkan efek yang berlekuk – lekuk di endometrium (Wiknjosastro, 2005)
b.       Spotting
Bercak – bercak perdarahan di luar haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik. Gangguan pola haid spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau terjadinya gangguan hormone. (Hartanto, 2003)
c.       Metroraghia
Perdarahan yang berlebihan di luar siklus haid. Gangguan pola haid metroraghia disebabkan oleh kadar hormon estrogen dan progesteron yang tidak sesuai dengan kondisi dinding uterus (endometrium) untuk mengatur volume darah menstruasi dan dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional (Depkes RI, 1999).
d.      Menorraghia
Datangnya darah haid yang berlebihan jumlahnya tetapi masih dalam siklus haid. Gangguan pola haid menorragia disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron sehingga menimbulkan endometrium menghasilkan volume yang lebih banyak (Depkes RI, 1999).
2.       Perubahan Berat Badan (BB)
Gejala dan keluhan dalam perubahan BB yaitu:
a.     BB bertambah dengan kenaikan rata-rata untuk setiap tahun antara 2,3 – 2,9 Kg. Perubahan BB kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak banyak yang bertumpuk di bawah kulit dan bukan merupakan karena retensi (penimbunan) cairan tubuh, selain itu juga DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang dapat menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Akibatnya pemakaian suntikan dapat menyebabkan berat badan bertambah (Hanafi, 2003).
b.       BB berkurang dengan penurunan rata-rata setiap tahun antara 1,6 – 1,9 Kg (Depkes, 1999).
3.       Sakit kepala
             Gejala dan keluhan dalam sakit kepala yaitu rasa berputar atau sakit di kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi atau kedua sisi atau seluruh bagian kepala. Biasanya bersifat sementara. Pusing dan sakit kepala disebabkan karena reaksi tubuh terhadap progestreon sehingga hormon estrogen fluktuatif (mengalami penekanan) dan progesteron dapat mengikat air sehingga sel – sel di dalam tubuh mengalami perubahan sehingga terjadi penekanan pada syaraf otak ( Depkes, 1999).
4.       Keputihan
Gejala dan keluhan dalam keputihan yaitu adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari liang sanggama dan terasa mengganggu. Keputihan disebabkan karena adanya infeksi, jamur atau kandida (Suratun, 2008).
5.       Jerawat
             Gejala dan keluhan dalam timbulnya jerawat yaitu timbulnya jerawat di wajah atau badan yang dapat disertai infeksi atau tidak (Suratun, 2008).

J.       Lokasi penyuntikan
Dengan i.m sampai daerah glutus:
1.      Daerah bokong/pantat
2.      Daerah otot lengan atas

K.     Waktu berKB
Waktu pemberian suntik dapat dilakukan
1.       Setelah menstruasi dalam lima hari atau setiap waktu selama siklus wanita.
2.       Setelah aborsi dalam waktu lima hari setelah dilakukan aborsi.
3.       Setelah melahirkan (tidak menyusui) dilakukan setelah melahirkan atau tiga minggu pasca partum kecuali pada wanita yang memiliki riwayat pasca partum.
4.       Setelah melahirkan (menyusui) dilakukan segera atau setelah melahirkan atau enam minggu pasca persalinan (Varney, 2007).

L.     Kunjungan  ulang
Kunjungan ulang perlu dilakukan apabila ibu mengalami perdarahan berat yang dua kali lebih panjang dari masa haid atau dua kali lebih banyak dalam satu periode masa haid, sakit kepala yang berulang dan berat atau kaburnya penglihatan, nyeri abdomen sebelah bawah yang berat dan buang air kecil yang berulang kali (Depkes RI, 2001).
Ibu juga diharapkan melakukan kunjungan ulang jika mengalami abses atau perdarahan tempat injeksi dan kanker merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada akseptor KB suntik DMPA (Varney, 2007).


   Referensi
      Hartanto, Hanafi, 2003, Keluarga Berencana Dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Saifudin, Abdul Bari, 2003, Buku panduan praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Wiknjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
http://www.pubmedcentral.nih.gov/pagerender.

Prohealth,http://forbetterhealth.wordpress.com
Rahardja, Kirana, 2007, Obat-obat Penting ed.6, 717, PT. Elex Media Computa, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar